Catatan Digital Marketing #3 – Content Marketing: Content Marketing adalah Cerita yang Menggoda

Sore kemarin, saya duduk di tepi pantai, Bali. Ombak bergoyang pelan, pasir hangat membelai kaki, dan aroma jagung bakar dari pedagang keliling menggoda hidung. Di tengah riuh turis, ada satu penjual es kelapa muda yang menarik perhatian. Bukan cuma karena teriakannya, “Es kelapa, segar, cuma 15 ribu!” Tapi karena caranya bercerita: “Dipetik pagi ini dari pohon di belakang pasar, rasanya enak banget!” Orang-orang berhenti, tersenyum, lalu beli. Saya tersenyum juga. Ini bukan cuma jualan. Ini content marketing versi pantai. Cerita yang bikin orang tak cuma tahu, tapi ingin jadi bagian darinya.

Content marketing adalah seni menyampaikan cerita yang membuat orang datang, tinggal, dan akhirnya membeli—tanpa merasa dijuali. Ini bukan iklan yang berteriak, “Beli sekarang, diskon 50%!” Ini seperti ombak di pantai: pelan, konsisten, tapi meninggalkan jejak di hati. Di dunia digital, content marketing adalah cara Anda membangun hubungan dengan audiens lewat cerita, informasi, atau hiburan yang bernilai. Seperti warung soto ayam yang saya kunjungi tahun lalu. Mereka tak cuma jual soto. Mereka posting video di TikTok: seorang ibu masak soto sambil cerita, “Resep ini dari nenek, 40 tahun tak pernah berubah.” Warung itu kini ramai, bukan karena iklan besar, tapi karena cerita itu hidup.

Saya ingat dua bulan lalu, di Surabaya, mampir ke kafe kecil. Kopinya enak, tempatnya nyaman, tapi awalnya sepi. Pemiliknya sudah pasang iklan di Instagram, foto-fotonya cantik, tapi pengunjung tak kunjung ramai. Caption-nya biasa saja: “Kopi Enak, Harga Mulai 20 Ribu.” Saya bilang, “Kamu cuma menjual kopi. Coba ceritakan sesuatu yang bikin orang ingin duduk di kafe ini.” Dia bingung. Lalu saya tanya, “Apa yang membuat kopimu beda?” Dia cerita: biji kopinya dari petani di Banyuwangi, diseduh dengan tangan, dan setiap cangkir punya cerita tentang pagi yang lebih hidup. “Itu cerita yang harus kamu jual,” kata saya.

apa itu content marketing

Content marketing bukan cuma soal menulis atau bikin video. Ini soal memberikan sesuatu yang berarti bagi audiens. Bisa informasi, inspirasi, atau sekadar tawa. Di pantai, penjual es kelapa tadi tak cuma menawarkan minuman. Dia menjual pengalaman: kesegaran dalam satu teguk. Di dunia digital, ini bisa berbentuk postingan Instagram yang menunjukkan proses pembuatan produk, blog yang berbagi tips berguna, atau video TikTok yang bikin orang tersenyum. Intinya, Anda memberi sebelum meminta. Anda bikin orang merasa, “Ini untuk saya.”

Saya teringat perjalanan naik gunung tahun lalu. Pagi itu, kabut tebal, udara dingin menusuk. Di pinggir jalan, ada warung kecil dengan papan sederhana: “Kopi Panas, Hangatkan Jiwa, Cuma 5 Ribu.” Saya berhenti, bukan cuma karena dingin, tapi karena kata-kata itu. Kopi itu biasa saja, tapi ceritanya: janji kehangatan di tengah-tengah gunung, membuat saya membeli. Itu content marketing tanpa media sosial. Bayangkan kalau warung itu punya Instagram. Mungkin mereka posting foto cangkir kopi dengan kabut di gunung di latar belakang, dengan caption: “Satu cangkir, dan pagimu jadi lebih hangat.” Saya yakin, orang akan antre.

Apa itu content marketing

Di dunia digital, content marketing punya tiga pilar: nilai, konsistensi, dan keterlibatan. Pertama, nilai. Konten Anda harus memberi sesuatu: solusi, hiburan, atau inspirasi. Misalnya, kafe di Surabaya tadi mulai posting Instagram Story tentang proses roasting biji kopi. Mereka juga buat video pendek: “3 Cara Menyeduh Kopi ala Barista di Rumah.” Orang tak cuma tahu kafe itu ada. Mereka belajar sesuatu. Mereka merasa kafe ini peduli pada mereka. Hasilnya? Dalam tiga bulan, pengunjung mereka naik dua kali lipat.

Kedua, konsistensi. Seperti ombak di pantai yang tak pernah berhenti menyapa, konten Anda harus rutin. Tak perlu setiap hari, tapi setidaknya 3-5 postingan seminggu di Instagram, atau 1-2 cuitan sehari di akun medsos X. Saya lihat akun Instagram penjual oleh-oleh. Setiap minggu, mereka posting foto pie susu hangat, kacang asin renyah, dan cerita pendek: “Ibu-ibu di desa ini bangun jam 4 pagi untuk bikin pie susu untuk Anda.” Konsistensi mereka membuat orang tak lupa. Bahkan turis yang sudah pulang pun masih pesan online.

Ketiga, keterlibatan. Content marketing bukan monolog. Anda harus ajak audiens bicara. Balas komentar, buat poll, atau tanya pendapat. Warung soto tadi, misalnya, pernah posting di TikTok: “Soto apa yang paling kamu suka: ayam atau daging?” Komentarnya ramai, orang bercerita tentang soto favorit mereka. Warung itu tak cuma dapat perhatian, tapi juga hati audiens. Ada toko kue juga yang rutin buat poll di Instagram: “Pilih rasa kue favoritmu: cokelat atau pandan?” Hasilnya, pelanggan merasa dilibatkan, dan toko itu jadi topik obrolan.

Tapi content marketing tak cuma soal media sosial. Ada banyak bentuk: blog, video, podcast, bahkan email. Saya ingat sebuah toko kerajinan. Mereka punya blog sederhana di situs web mereka: “5 Cara Memilih Kerajinan Kayu Asli.” Blog itu tak cuma menarik turis, tapi juga muncul di Google setiap kali orang cari “kerajinan kayu.” Itu content marketing yang bekerja diam-diam, tapi hasilnya besar. Mereka juga kirim email bulanan ke pelanggan: cerita tentang pengrajin lokal, promo kecil, dan tips merawat kerajinan kayu. Pelanggan lama jadi setia, pelanggan baru berdatangan.

Satu hal yang saya pelajari: content marketing harus autentik. Orang bisa mencium kalau Anda cuma pura-pura. Dua minggu lalu, saya mampir ke pasar tradisional. Ada penjual madu yang punya akun Instagram. Caption-nya: “Madu asli dari hutan, dipanen dengan cinta oleh petani lokal.” Mereka juga posting video: seorang petani memanjat pohon untuk ambil sarang lebah. Itu autentik. Orang percaya, karena cerita itu nyata. Bandingkan dengan iklan madu lain: “Madu Super, Kualitas Terjamin.” Mana yang lebih menarik? Saya yakin Anda tahu jawabannya.

Content marketing juga soal strategi. Anda harus tahu siapa audiens Anda, apa yang mereka butuh, dan di mana mereka “nongkrong”. Anak muda mungkin suka video pendek di TikTok. Ibu-ibu mungkin lebih suka baca tips di blog atau WhatsApp. Kafe tadi akhirnya buat konten beda untuk dua kelompok. Untuk anak muda: video barista bikin latte art dengan caption kocak. Untuk ibu-ibu: postingan tentang manfaat kopi tanpa gula untuk kesehatan. Hasilnya? Mereka tak cuma ramai di Instagram, tapi juga dapat pesanan catering dari kantor-kantor.

Tak lupa, content marketing harus punya tujuan. Bukan cuma bikin orang suka, tapi juga menggiring mereka ke aksi: beli, daftar, atau setidaknya ingat Anda. Istilahnya call-to-action (CTA). Contohnya, kafe itu sekarang selalu akhiri postingan dengan: “Mampir besok, dapatkan diskon 10% untuk pesan di tempat!” Atau toko kerajinan: “Kunjungi situs kami untuk lihat koleksi terbaru!” Sederhana, tapi efektif. Seperti penjual es kelapa di pantai yang selalu akhiri ceritanya dengan: “Cuma 15 ribu, mau coba?”

Saya juga belajar dari kesalahan. Dulu, sebuah toko oleh-oleh pernah minta saran. Mereka posting di Instagram: “Oleh-Oleh, Komplit, Murah.” Hasilnya biasa saja. Saya sarankan ubah jadi: “Bawa pulang dalam setiap gigitan. Pie susu hangat, dibuat oleh tangan-tangan lokal.” Mereka juga tambah video pendek: proses pembuatan pie susu di dapur desa. Dalam sebulan, pesanan online mereka naik tiga kali lipat. Itu content marketing yang bekerja. Bukan cuma menjual, tapi mengajak orang masuk ke cerita mereka.

Di era digital, alat untuk content marketing banyak dan murah. Canva untuk desain, CapCut untuk edit video, Later untuk jadwal posting. Bahkan ponsel seharga dua juta pun bisa bikin konten yang viral. Kuncinya bukan alat, tapi cerita. Seperti ombak di pantai yang tak pernah berhenti menyapa, konten Anda harus terus hadir, terus mengalir. Tak perlu sempurna, tapi harus jujur. Seperti soto ayam yang tak pernah berubah resepnya. Atau kopi di gunung yang hangat di pagi dingin. Atau es kelapa muda yang bikin turis tersenyum.

Jadi, apa itu content marketing? Bagi saya, ini seperti berdiri di tepi pantai, bercerita tentang es kelapa muda yang tak cuma segar, tapi membawa cerita. Ini soal memberi sebelum meminta. Soal membangun hubungan, bukan cuma transaksi. Mulai kecil: satu postingan, satu cerita. Seperti ombak yang pelan-pelan membentuk pantai, content marketing Anda akan membentuk audiens yang setia. Dan suatu hari, seperti warung soto itu, Anda akan ramai—bukan karena iklan, tapi karena cerita Anda hidup di hati orang.